BEI Update Penghimpunan Dana Pasar Modal, OJK Bidik Rp250T
EmitenTrust.com - Bursa Efek Indonesia (BEI) masih memiliki 9 perusahaan dalam pipeline penawaran umum perdana saham atau Initial Public Offering (IPO) hingga 9 Oktober 2026. Pada periode yang sama, terdapat 22 emisi surat utang dari 17 penerbit yang masih mengantre, serta 1 perusahaan tercatat yang berada dalam pipeline aksi korporasi rights issue.
Berdasarkan data BEI, sebanyak 7 perusahaan telah mencatatkan saham di bursa sepanjang 2026 dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp2,16 triliun.
Dari 9 calon emiten yang masih berada dalam pipeline IPO, sektor kesehatan (healthcare) mendominasi dengan 4 perusahaan. Selanjutnya, terdapat 2 perusahaan dari sektor energi (energy), serta masing-masing 1 perusahaan dari sektor bahan baku (basic materials), keuangan (financials), dan perindustrian (industrials).
Berdasarkan klasifikasi aset yang mengacu pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017, calon emiten tersebut terdiri atas 2 perusahaan dengan aset skala kecil di bawah Rp50 miliar, 4 perusahaan dengan aset skala menengah antara Rp50 miliar hingga Rp250 miliar, serta 3 perusahaan dengan aset skala besar di atas Rp250 miliar.
Di pasar surat utang, BEI mencatat sebanyak 22 emisi dari 17 penerbit Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) masih berada dalam pipeline hingga 9 Oktober 2026.
Berdasarkan rincian sektoral yang disampaikan BEI, pipeline tersebut mencakup 5 emisi dari sektor energi, 4 emisi dari sektor infrastruktur, masing-masing 3 emisi dari sektor bahan baku dan keuangan, serta masing-masing 1 emisi dari sektor perindustrian dan properti dan real estat.
Sementara itu, sepanjang tahun berjalan hingga 9 Oktober 2026, telah diterbitkan 140 emisi EBUS dari 63 penerbit dengan total dana yang dihimpun mencapai Rp138,04 triliun.
Angka tersebut menunjukkan besarnya aktivitas penghimpunan dana melalui instrumen surat utang di pasar modal Indonesia dibandingkan dengan dana IPO yang tercatat dalam periode yang sama.
Untuk aksi korporasi penambahan modal melalui rights issue, sebanyak 15 perusahaan tercatat telah menerbitkan saham baru dengan total nilai mencapai Rp16,23 triliun hingga 9 Oktober 2026.
Adapun dalam pipeline BEI masih terdapat 1 perusahaan yang berencana melaksanakan rights issue. Perusahaan tersebut berasal dari sektor properti dan real estat.
Secara keseluruhan, data pipeline BEI memperlihatkan aktivitas penghimpunan dana melalui tiga jalur, yakni pencatatan saham perdana, penerbitan obligasi dan sukuk, serta rights issue. Pasar surat utang mencatat dana terhimpun Rp138,04 triliun, sementara rights issue mencapai Rp16,23 triliun dan IPO Rp2,16 triliun sepanjang periode yang dilaporkan.
Sebelumnya, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi mengatakan capaian tersebut menunjukkan pasar modal domestik masih menjadi salah satu sumber pendanaan yang dimanfaatkan korporasi di tengah dinamika pasar keuangan global.
“Penghimpunan dana oleh korporasi domestik di pasar modal domestik juga tetap terjaga dan kuat dengan nilai penawaran umum secara year-to-date telah mencapai angka Rp186,03 triliun,” ujar Hasan dalam konferensi pers Rapat Dewan Komisioner Bulanan OJK September 2026 di Jakarta, Senin (5/10).
OJK sendiri memasang target penghimpunan dana melalui pasar modal sebesar Rp250 triliun sepanjang 2026. Dengan realisasi Rp186,03 triliun hingga September, masih terdapat selisih sekitar Rp63,97 triliun yang perlu dikejar hingga akhir tahun.Cari Suplier Mesin
Hasan mengatakan pencapaian target tersebut masih akan dipengaruhi oleh kondisi pasar hingga penghujung 2026. Sejumlah faktor yang menjadi perhatian antara lain dinamika pasar keuangan, tingkat minat investor, serta keputusan emiten dalam menentukan waktu penerbitan dan mempertimbangkan biaya pendanaan.
OJK akan terus memantau perkembangan pasar sekaligus mendorong perusahaan memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pembiayaan. Namun, regulator tetap menekankan pentingnya kualitas keterbukaan informasi dan perlindungan investor dalam setiap aksi penghimpunan dana.