Direksi BRMS Borong Saham, Produksi Emas Bakal Melesat?
EmitenTrust.com EmitnTrust.com - Jajaran direksi emiten Grup Bakrie PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) terus menambah kepemilikan sahamnya di perusahaan tambang mineral tersebut. Dalam transaksi terbaru, dua direktur BRMS, Charles Daniel Gobel dan Muhammad Sulthon, kembali membeli saham perseroan dengan total tambahan sebanyak 740.000 lembar saham.
Manajemen BRMS dalam rilisnya pada Selasa (20/10) menyampaikan bahwa Muhammad Sulthon membeli 190.000 lembar saham BRMS pada 13 dan 15 Oktober 2026. Sementara itu, Charles Daniel Gobel menambah kepemilikannya sebanyak 550.000 lembar saham pada 20 Oktober 2026.
Dengan transaksi tersebut, pembelian saham oleh kedua direktur itu menambah daftar aksi pembelian saham oleh jajaran manajemen BRMS. Dalam 18 bulan terakhir, lima direksi perseroan telah membeli hampir 7,5 juta lembar saham BRMS.
Kelima direksi tersebut adalah Charles Daniel Gobel, Adrian Wicaksono, Adika Aryasthana Bakrie, Muhammad Sulthon, dan Herwin Wahyu Hidayat.
Menurut manajemen, pembelian saham oleh para direktur tersebut mencerminkan keyakinan manajemen terhadap prospek kinerja BRMS ke depan. Meski demikian, aksi pembelian saham oleh pengurus perusahaan tidak dengan sendirinya menjamin kinerja atau pergerakan harga saham pada masa mendatang.
Dari sisi operasional, BRMS tengah mengandalkan peningkatan kadar bijih emas dan kapasitas pengolahan untuk mendorong pertumbuhan produksi. Perseroan sebelumnya menyelesaikan kegiatan pushback di tambang emas terbuka Poboya, Palu, pada Juli 2026.
Setelah penyelesaian kegiatan tersebut, BRMS mulai menambang bijih dengan kadar emas lebih tinggi, yakni di atas 1,5 gram per ton (g/t), pada semester II-2026. Perseroan berharap peningkatan kadar bijih tersebut dapat mendongkrak produksi emas pada paruh kedua tahun ini.
Selain tambang terbuka, BRMS juga mengembangkan proyek tambang emas bawah tanah di Palu. Perseroan menargetkan mulai menambang bijih berkadar emas tinggi, di atas 3,2 g/t, dari tambang bawah tanah tersebut pada pertengahan 2027.
BRMS juga merencanakan peningkatan kapasitas salah satu pabrik pengolahan emasnya dari 500 ton menjadi 2.000 ton bijih per hari. Pabrik dengan kapasitas yang lebih besar itu diharapkan mulai beroperasi pada awal 2027.
Melalui peningkatan kadar bijih, pengembangan tambang bawah tanah, dan ekspansi kapasitas pengolahan, BRMS berharap dapat melanjutkan pertumbuhan produksi emas pada 2027 dan 2028.
Pada perdagangan Selasa (20/10) saham BRMS malah turun 1,83 persen ke level Rp428.