6 Bulan Saham Terbang 827%, BEI Telisik BIKE Soal Akuisisi Tambang
EmitenTrust.com - - PT Bursa Efek Indonesia (BEI) meminta penjelasan kepada PT Bhineka Inovasi Ketahanan Energi Tbk (BIKE) terkait keterbukaan informasi mengenai rencana akuisisi sejumlah perusahaan di sektor energi dan pertambangan batu bara.
BEI turut menyoroti penyebutan perusahaan target sebagai entitas anak sebelum seluruh tahapan pengambilalihan rampung.
Menanggapi hal tersebut, manajemen BIKE menjelaskan bahwa penyebutan itu mengacu pada rencana pembentukan struktur grup usaha setelah proses akuisisi selesai.
Perseroan berencana mengambil alih perusahaan pemegang 99% saham PT Prambanan Nusantara Energi (PNE). Namun, manajemen menegaskan proses tersebut belum tuntas.
“Namun, proses tersebut masih bergantung pada penyelesaian transaksi dan pemenuhan ketentuan yang berlaku,” jelas manajemen BIKE dalam tanggapan kepada BEI pada 24 Oktober 2026.
Dalam dokumen tanggapan tersebut, terdapat perbedaan penyebutan nama perusahaan pemegang saham pengendali PNE. Pada satu bagian, perusahaan itu disebut PT Fahreza Bumi Mega (FBM), sedangkan pada bagian lain tercantum PT Fahreza Duta Perkasa (FDP).
Dari sisi kinerja, PNE membukukan pendapatan Rp112,5 miliar dan laba bersih Rp35,38 miliar hingga 26 September 2026. PNE bergerak di bidang perdagangan bahan bakar, mesin dan peralatan, konstruksi, energi, serta pertambangan. Sebagai perbandingan, sepanjang 2025 PNE belum mencatatkan pendapatan dan membukukan rugi bersih Rp76,84 juta.
BIKE menyebut rencana pengambilalihan PNE memiliki hubungan afiliasi karena adanya kesamaan pihak pengendali atau pemilik. Harga transaksi ditentukan berdasarkan kesepakatan para pihak, sementara nilai akuisisi secara terpisah dan tanggal efektif konsolidasi belum dipastikan.
Selain PNE, BIKE menjelaskan pengambilalihan 72% saham PT Berau Usaha Mandiri (BUM) oleh PNE yang efektif pada 7 Oktober 2026. Perusahaan tambang batu bara yang beroperasi di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, ini memiliki wilayah izin pertambangan seluas 500 hektare, sumber daya batu bara 12,19 juta ton, serta cadangan terbukti 2,08 juta ton.
Hingga 26 September 2026, BUM mencatatkan pendapatan Rp457,85 miliar dan laba bersih Rp297,60 miliar, dengan total aset Rp804,84 miliar. Sepanjang 2025, pendapatan BUM mencapai Rp463,27 miliar dan laba bersih Rp301,13 miliar.
Menurut penjelasan BIKE, pengambilalihan tersebut dibiayai menggunakan kas internal PNE. Harga transaksi juga ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.
PNE selanjutnya mengambil alih 45% saham PT Sumber Bara Abadi (SBA), efektif pada 9 Oktober 2026. SBA memiliki wilayah izin pertambangan seluas 4.909 hektare di Kecamatan Sebulu dan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur.
Dalam keterbukaan informasinya, BIKE mencantumkan nilai bruto US$8 miliar untuk potensi batu bara sebanyak 86 juta ton. Nilai tersebut merupakan nilai bruto proyek, bukan harga akuisisi saham SBA.
Dari sisi keuangan, SBA membukukan pendapatan Rp1,12 triliun dan laba bersih Rp334,71 miliar hingga September 2026. Total aset perusahaan mencapai Rp1,25 triliun. Sementara itu, sepanjang 2025 SBA mencatatkan pendapatan Rp1,13 triliun dan laba bersih Rp337,96 miliar.
Seperti transaksi BUM, pengambilalihan saham SBA dibiayai menggunakan kas internal PNE, sedangkan harga transaksi ditetapkan berdasarkan kesepakatan para pihak.
Sebagai informasi Saham BIKE pada perdagangan Jumat (23/10) ditutup harga Rp5.150. Dalam sepekan terakhir naik 23 persen. Dalam sebulan terbang 368 persen. Dalam enam bulan melonjak 827 persen dari harga Rp555 pada 24 April 2026.